Pengaruh Ideologi ISIS dan Eksistensinya di Indonesia

ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) adalah sebuah negara dan organisasi militan jihad yang tidak diakui di Irak dan Suriah. Sebutan lainnya adalah ISIL (Islamic State of Iraq and the Levant). Negara baru ini dideklarasikan oleh Abu Bakar Al-Baghdadi pada tanggal 9 April 2013. Karena tidak diakui oleh pemerintahan Irak dan Suriah, tentu saja deklarasi ini masih bersifat sepihak. Meskipun tidak diakui secara de jure oleh negara-negara lain, ISIS telah menguasai wilayah seluas ± 400.000 km2, yang berada di wilayah Irak dan Suriah.

Sekelompok jurnalis, desainer, musisi, animator, dan programmer yang menamai diri mereka Kurz Gesagt, mencoba menjelaskan darimanakah ISIS ini berasal. Pada saat itu, Amerika Serikat menginvasi Irak karena dituduh adanya kegiatan yang terkait dengan terorisme dan memiliki senjata pemusnahan massal. Saat itu Irak dipimpin oleh Saddam Husein, yang merupakan bagian dari golongan minoritas Sunni (di Irak, populasi Sunni hanya sekitar 20%, dan populasi Syiah sekitar 63%). Dengan cepat Irak ditaklukan oleh AS, tetapi AS sendiri pun tidak memiliki rencana apa-apa untuk Irak. Sejak saat itu umat Syiah mengambil alih kekuasaan di Irak. Tentu saja banyak pemberontakan yang datang dari kalangan Sunni, seperti Al-Qaeda. Pada tahun 2006 terjadi perang saudara dan menyebabkan Irak jatuh. Invasi AS ini melahirkan terorisme yang awalnya hendak disingkirkan, dan Irak menjadi tempat yang sempurna untuk pelatihan terorisme. Arab Saudi dan Iran merupakan dua pemain yang penting dalam Sunni dan Syiah. Mereka menyokong kelompok-kelompok yang bertempur karena perbedaan orientasi agama. Salah satu kelompok yang disokong oleh Arab Saudi adalah ISIS. Lalu di tahun 2010, terjadi perang saudara di Arab Saudi karena diktator yang berasal dari kalangan Syiah, Bashar Al-Ashad tidak pernah berfikir untuk turun dari jabatannya di Suriah. Semakin lama perang itu terjadi, semakin banyak kelompok militant asing yang bergabung di perperangan itu, termasuk ISIS.

ISIS dikenal dengan kekerasan yang sangat brutal, seperti bom bunuh diri dan memenggal kepala sandera. Target utama ISIS adalah umat Islam Syiah dan umat Kristen. Pemberontak yang berasal dari Irak dan Suriah ini telah menewaskan ribuan orang. Menurut data PBB, lebih dari 2.400 orang tewas di bulan Juni 2014 ini, yang merupakan aksi kekerasan terburuk di Irak dalam beberapa tahun terakhir. Tidak terjadi di Irak dan Suriah saja, di negara lain pun pemberontak ini bersifat “sangat menyusahkan” dan membuat mereka ketakutan akan akibat yang ditimbulkan oleh si pemberontak tersebut.

Contohnya seperti Amerika Serikat. Sudah banyak jurnalis asal negara superpower tersebut yang dijadikan sandera oleh ISIS, salah satunya adalah Steven Sotloff. Pada saat Sotloff diculik, video yang berjudul “Pesan Kedua ke Amerika” beredar untuk menyampaikan pesan khusus untuk presiden Amerika Serikat, Obama:

Anda telah menghabiskan miliaran dolar pembayar pajak AS dan kita telah kehilangan ribuan tentara kita dalam pertempuran melawan Daulah Islamiyah (Negara Islam), jadi di mana letaknya kepentingan rakyat dalam mengobarkan perang ini? Saya datang lagi, Obama. Dan saya kembali karena kebijakan arogan Anda terhadap Negara Islam.. padahal kami sudah menyampaikan peringatan serius. Kami menggunakan kesempatan ini untuk memperingatkan pemerintah negara-negara yang masuk persekutuan setan Amerika terhadap Daulah Islamiyah, untuk mundur dan tak mencampuri urusan kami.

Tentu saja Presiden Obama tidak berdiam diri saja. Ia segera mengumpulkan seluruh panglima dari 22 negara untuk membahas langkah-langkah koalisi militer pimpinan AS dalam memerangi kelompok ISIS. Menjelang pertemuan, pasukan koalisi melancarkan 21 serangan bom terhadap ISIS dekat kota Kobani, Suriah di perbatasan dengan Turki. Dan strategi yang digunakan dalam memerangi ISIS sejauh ini dapat dikatakan berhasil.

Apakah kalian sudah membayangkannya? Apa yang akan terjadi jika ISIS sudah memasuki wilayah Indonesia? Seperti yang kita ketahui bahwa ISIS sudah mulai menyebar di negara-negara selain Irak dan Suriah. Saya sendiri tidak akan sanggup membayangkan jika warga Indonesia menjadi korban kekerasan oleh negara militan tersebut. Tetapi hal itu hanya faktor eksternal saja, belum lagi faktor internalnya. Apa yang terjadi bahwa warga negara Indonesia ingin menjadi bagian dari ISIS?

Bahkan menurut otoritas keamanan di Indonesia, 60 WNI diketahui telah bergabung di ISIS dan menurut keterangan Polri, sudah ada 5 WNI yang tewas saat bertempur bersama ISIS di Timur Tengah. Lalu diketahui juga pada 16 Oktober kemarin, menurut Duta Besar Indonesia untuk Iran, Safzen Noerdin mengatakan bahwa ada WNI yang tertangkap karena bergabung dengan ISIS.

Indonesia sendiri belum memiliki undang-undang khusus yang mengatur tentang terorisme semacam ISIS. Hanya ada undang-undang yang mengatur tentang pendanaan terorisme, yaitu UU no.9 tahun 2013. Jadi, kegiatan-kegiatan ringan yang dilakukan dan berhubungan dengan ISIS akan dibebaskan, seperti memberikan dukungan dengan memasang bendera ISIS. Akan lebih baik jika pemerintahan Indonesia merevisi UU tersebut untuk menyikapi dan mencegah warga Indonesia bergabung dengan ISIS.

Pemerintah Indonesia telah mengantisipasi masuknya ISIS di Indonesia karena ajaran ISIS bertentangan dengan ideologi Pancasila. Contohnya seperti warga Indonesia yang ingin berkunjung ke Timur Tengah diperiksa terlebih dahulu, apa tujuan mereka untuk pergi ke Timur Tengah. Lalu mereka melakukan sosialisasi dan himbauan terhadap masyarakat Indonesia untuk tidak bergabung dengan jaringan ISIS. Dan juga sejauh ini kepolisian Indonesia telah menangkap sedikinya 3 orang dari Bekasi dan Ngawi, tetapi karena latar belakang mereka merupakan buronan tindak pidana terorisme.

Majelis Ulama Indonesia dan sejumlah ormas Islam telah menolak ISIS beserta ideologinya, namun ada beberapa ormas Islam lainnya menolak dengan “catatan” lantaran mendukung ide pendirian negara Islam dengan sistem kekhalifahan.

Menurut saya, ISIS bukanlah gerakan Islam, akan tetapi merupakan gerakan politik yang mengatasnamakan agama Islam untuk merebut kekuasaan politik di Irak dan Syria. Jadi, mereka tidak ada hubungannya dengan politik negara lain, termasuk Indonesia. Tetapi untuk menghindari dampak buruk yang ditimbulkan ISIS untuk Indonesia, akan lebih baik jika kita tidak memberikan dukungan apapun kepada mereka, apalagi sampai bergabung yang membuat ISIS menjadi berkembang. Kenapa? Karena gerakan dan faham ISIS bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang mengajarkan perdamaian dan keadaban. Lalu bertentangan juga dengan ideologi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Memberikan dukungan dan peluang untuk berkembangnya ISIS hanya akan memecah belah persatuan bangsa.

Semoga warga negara Indonesia tidak terlibat pada jaringan atau kelompok ISIS, dan bagi warga negara Indonesia yang sudah terlibat dan bergabung dengan kelompok ISIS agar menyadari bahwa bergabung dengan ISIS adalah suatu perlakuan yang bertentangan dengan ideologi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Lalu, semoga warga negara Indonesia yang awalnya memberi dukungan kepada ISIS dan membantu mereka dalam hal apapun, berhenti melakukannya agar mencegah kelompok militant tersebut berkembang menjadi kelompok terorisme yang brutal dan tidak berkeperimanusiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s